Miliarder Ini Rangkai Kapal Selam Senilai Ro 321 Miliar Demi Lihat Bangkai Titanic

Seorang miliarder asal Ohio berencana untuk membawa kapal selam ke kedalaman dimana bangkai kapal Titanic bersemayam untuk menandakan bahwa industri ini lebih aman sesudah kecelakaan kapal OceanGate yang meledak tahun lalu.

Investor real estate asal Dayton, Larry Connor, mengatakan bahwa ia dan salah satu pendiri Triton Submarines, Patrick Lahey, akan menyelam sampai kedalaman lebih dari 12.400 kaki ke bangkai kapal Titanic dengan kapal selam berkapasitas dua orang.

Rancang Kapal Selam
Lahey telah merancang sebuah kapal selam senilai $20 juta (Rp321 miliar) yang dijuluki Triton 4000/2 Abyssal Explorer. Connor mengklaim bahwa kapal selam ini bisa menjalankan pelayaran berulang kali.

Patrick telah memikirkan dan merancang kapal ini selama lebih dari satu dekade. Tapi kami tidak memiliki bahan demo spaceman dan teknologinya,” kata Connor. “Anda tidak akan bisa membikin kapal selam ini lima tahun yang lalu.”

Keduanya mengatakan bahwa mereka mau menandakan bahwa perjalanan ini bisa dilaksanakan tanpa kecelakaan, terlepas dari meledaknya kapal selam Titan pada bulan Juni lalu, yang menewaskan lima orang di dalamnya, termasuk CEO OceanGate, Stockton Rush.

Titan sedang menuju ke laman Titanic saat tiba-tiba mengalami “ledakan dahsyat” pada tanggal 18 Juni lalu.

Agenda Penyelaman Pasca Kecelakaan OceanGate

Beberapa hari sesudah tragedi tersebut, Connor menelepon Lahey dan mendesaknya untuk memaksimalkan kapal selam dengan mutu yang lebih baik.

“[Ia berkata], Anda tahu, apa yang perlu kita lakukan merupakan membikin kapal selam yang bisa menyelam ke [kedalaman setingkat Titanic] berulang kali dan dengan aman dan menunjukkan kepada dunia bahwa kalian bisa mengerjakannya, dan bahwa Titan merupakan sebuah alat,” kata Lahey kepada koran tersebut.

Connor tidak mengatakan kapan pelayaran ini akan dilaksanakan.

Lahey termasuk di antara para kritikus di industri wisata laut dalam yang menuduh perusahaan OceanGate memiliki standar keselamatan dan keamanan pelayaran di bawah laut yang dipertanyakan dan menyebut bahwa pendekatan bisnis yang dilaksanakan Rush “sungguh-sungguh predatoris.”