Raksasa Ekonomi Bertumbangan, RI Aman?

Laju ekonomi sejumlah negara mengarah ke jurang resesi. Kondisi ini dikhawatirkan sanggup berdampak kepada perlambatan ekonomi global, terhitung Indonesia.

Jepang jadi negara paling akhir yang formal masuk ke jurang resesi secara teknikal sesudah ekonomi Negara Sakura terkontraksi selama dua kuartal beruntun. Sebelumnya, Jerman terhitung jadi perhatian besar gara-gara ekonominya yang tetap ambruk, kalian juga dapat menyaksikan berita ini di situs https://ptkdikdasbutur.com/ dan https://wisatabatulayang.com/..

Asia – Jepang

Jepang tergelincir ke dalam resesi dan kehilangan posisinya sebagai negara dengan perekonomian terbesar ketiga di dunia. Perekonomian Jepang kini jadi yang terbesar keempat di dunia sesudah mengalami kontraksi terhadap kuartal paling akhir th. 2023 dan tertinggal dari Jerman

Ekonomi Jepang terkontraksi 0,4% terhadap kuartal IV-2023, menurut information PDB riil Kantor Kabinet yang dirilis terhadap hari Kamis pekan lalu, walaupun tumbuh sebesar 1,9% selama th. 2023. Kontrkasi ini memperpanjang derita ekonomi Jepang yang terhitung terkoreksi 3,3% terhadap kuartal III-2023.

Kontraksi dua kuartal berturut-turut dianggap sebagai indikator perekonomian berada dalam resesi teknis.

Laporan PDB paling baru itu jauh meleset dari perkiraan perkembangan 1,4% dalam jajak pendapat para ekonom Reuters. Secara kuartalan (quarter to quarter/qtq), PDB turun 0,1%, dibandingkan dengan perkiraan kenaikan 0,3% dalam jajak pendapat Reuters.

Perekonomian Jepang adalah yang terbesar ke-2 sampai th. 2010 saat China mengambil tahta Jepang. PDB nominal Jepang berjumlah US$4,2 triliun th. 2023, namun Jerman berjumlah US$4,4 triliun.

Jerman

Komisi Eropa memangkas perkiraan perkembangan dan inflasi untuk zona euro terhadap 2024, Kamis (15/2/2024). Meski inflasi diprediksi melandai 2,7% tapi perkembangan dapat lamban. Diyakini kawasan dengan mata duwit tunggal itu, hanya dapat tumbuh 0,8%.

Ketegangan geopolitik jadi penyebab. Ini meningkatnya ketidakpastian bagi perekonomian.

Pertumbuhan ekonomi Jerman, diprediksi hanya sebesar 0,3% terhadap th. 2024, turun dari prediksi musim gugur sebesar 0,8%.

“Konsumsi swasta menderita akibat hilangnya energi beli. Aktivitas di sektor konstruksi dan energi intensif terhalang oleh kenaikan biaya yang tinggi dan kekurangan tenaga kerja,” kata komisaris ekonomi Uni Eropa (UE),  Paolo Gentiloni, meski memperkirakan perekonomian dapat tumbuh sebesar 1,2% th. 2025.

Inggris

Inggris tergelincir ke dalam resesi sesudah ekonomi mereka terkontraksi (quartal to quartal/qtq) terhadap kuartal III dan IV 2023. Resesi secara teknikal ini perlihatkan bahwa Perdana Menteri Rishi Sunak sejauh ini gagal mencukupi janjinya untuk menumbuhkan perekonomian.

Ekonomi Inggris sebetulnya masih tumbuh sebesar 0,1% selama 2023 secara total th. tapi ini merupakan perkembangan tahunan paling lambat yang dulu berlangsung di Inggris sejak 2009, tidak terhitung th. pertama pandemi.

Amerika Serikat

Indek Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat (AS) melonjak terhadap awal tahun. Inflasi meningkat lebih dari perkiraan terhadap bulan Januari 2024 gara-gara tingginya harga tempat tinggal yang membebani konsumen, menurut laporan Departemen Tenaga Kerja terhadap hari Selasa pekan lalu.

Indeks harga konsumen, ukuran harga barang dan jasa yang dihadapi pembeli di seluruh perekonomian, meningkat 0,3% terhadap bulan tersebut, menurut laporan Biro Statistik Tenaga Kerja. Dalam basis 12 bulan, angkanya capai 3,1%, turun dari 3,4% di bulan Desember 2023.

Dikutip dari Congressional Budget Office (CBO), perkembangan ekonomi AS diperkirakan melambat jadi 1,5% terhadap 2024 dan sesudah itu berlanjut terhadap kecepatan yang moderat.

Lebih lanjut, perkembangan PDB riil diperkirakan rata-rata berada di angka 2,2% per th. dari 2025 sampai 2028. Hal ini berlangsung mengingat membeli pembeli yang berubah tajam ke barang dan jasa selama pandemi, lagi ke pola sebelum pandemi.

Pertumbuhan mengkonsumsi diperkirakan melemah terhadap 2024 gara-gara nilai tabungan penduduk dapat menjadi berkurang sejalan dengan pelonggaran pasar tenaga kerja, di tengah pengaruh pengetatan moneter yang tetap berlanjut sejak awal th. 2022.

Indonesia

Pertumbuhan ekonomi Indonesia terhadap kuartal IV 2023 capai 5,04% secara tahunan (yoy), sedikit melebihi proyeksi pemerintah sebesar 5%.

Penyumbang utama perkembangan ini adalah peningkatan mengkonsumsi tempat tinggal tangga dan investasi. Konsumsi tempat tinggal tangga, yang merupakan komponen terbesar dari product domestik bruto (PDB) Indonesia, tumbuh 4,82% di 2023. Kenaikan upah minimum dan bantuan sosial pemerintah jadi aspek pendorong utama peningkatan mengkonsumsi tempat tinggal tangga. Di tengah tantangan ekonomi world dan inflasi yang tinggi, peningkatan mengkonsumsi tempat tinggal tangga perlihatkan bahwa energi beli penduduk Indonesia masih terjaga.

Sementara itu, investasi tumbuh 4,40%, di dukung oleh realisasi program pembangunan infrastruktur. Meskipun perkembangan investasi melambat dibandingkan th. sebelumnya, hal ini selalu perlihatkan kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia. Stabilitas politik dan ekonomi, serta potensi pasar yang besar, jadi energi tarik bagi investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

Belanja pemerintah tumbuh  2,95% di 2023 terhadap 2023, berbanding terbalik dengan kontraksi 4,47% terhadap 2022. Belanja pemerintah masih memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan ekonomi lewat program-program pembangunan infrastruktur dan bantuan sosial pemerintah yang tetap berlanjut.

Ekspor tumbuh 1,32% waktu impor terkoreksi 1,65%.  Kenaikan ekspor didorong oleh permintaan world yang relatif masih kuat terhadap komoditas andalan Indonesia, seperti batu bara, minyak kelapa sawit, dan karet. Sementara itu, peningkatan impor didorong oleh keperluan bahan baku dan barang modal untuk membantu perkembangan ekonomi. Hal ini perlihatkan bahwa Indonesia masih sanggup berkompetisi di pasar global.

Secara kumulatif selama 2023, realisasi perkembangan ekonomi sebesar 5,05%, melambat dibandingkan perkembangan 5,31% terhadap 2022. Hal ini sejalan dengan perkiraan akibat perlambatan ekonomi world dan kegiatan domestik yang terdampak inflasi tinggi.

Dampak Ekonomi ke Indonesia

Melandainya ekonomi Amerika Serikat, China, Jepang dan Jerman jadi kabar buruk bagi Indonesia mengingat besarnya peran mereka dalam laju ekspor dan investasi. Presiden RI terpilih mendatang wajib mengantisipasi pengaruh dari perlambatan ekonomi raksasa dunia. Jika ekonomi mereka melambat maka perkembangan ekonomi RI pun ikut terancam.

Merujuk information Badan Pusat Statistik (BPS), China adalah pasar terbesar ekspor bagi Indonesia, disusul dengan Amerika dan Jepang.

Ekspor ke China menembus US$ 64,94 miliar terhadap 2023 atau kurang lebih 25,1% dari total ekspor.. AS menempati posisi ke-2 dengan nilai US$ 23,25 miliar dan Jepang menyusul di kronologis tiga dengan nilai 20,79 miliar.

China dan Jepang terhitung berkontribusi besar bagi investasi asing segera (Foreign Direct Investment/FDI) ke Indonesia.

Pada kuartal IV-2023, realisasi FDI China ke Indonesia sebesar US$1,9 miliar dan Jepang sebesar US$1,4 miliar. Sedangkan untuk selama 2023 (Januari-Desember), total realisasi FDI China ke Indonesia sebanyak US$7,4 miliar, namun Jepang ke Indonesia sebanyak US$4,6 miliar.

Dengan lesunya Negeri Tirai Bambu, maka FDI ke Indonesia dapat jadi terganggu Indonesia lantaran pendapatan negara untuk diinvestasikan ke negara lain seperti Indonesia jadi makin sedikit.

Ekonom dan mantan Menteri Keuangan di Era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), M. Chatib Basri sempat menyampaikan bahwa 1% perlambatan ekonomi di China, itu punya pengaruh perkiraannya sebesar 0,3% terhadap Indonesia.

Lebih lanjut, negara-negara pemberi utang (kreditor) untuk Utang Luar Negeri (ULN) Swasta Indonesia pun tercatat mengalami penurunan lebih-lebih yang mampir dari AS, Jerman, dan China.

Hal ini makin memperjelas bahwa negara-negara tersebut pun menjadi melakukan pengereman dalam memberikan kredit ke Indonesia.